Makroekonomi adalah sebuah Mata Kuliah yang menjelaskan demikian banyak premis. Hubungan, kalusal ceteris paribus, sampai model akibat suatu keputusan kebijakan dikupas di acara ini. Sebuah film yang mewakili asumsi dalam garis besar haluan pembelajarannya antara lain Wall Street Money Never Sleep. Momen yang bekasnya bisa dilihat secara gambalang dalam kehidupan sehari-hari ketika tokoh utama menjelaskan tentang gelembung ekonomi. Sehingga daya tarik pengelolaan individu berimbas pada pengelolaan masyarakat dan kemasyarakatan, faedah bagi seorang mahasiswa dari mendalami materi ini.
...
Mahasiswa itu terdiri dari dua kata yaitu 1) Maha mewakili kesempurnaan, puncak tertinggi, pembuat solusi dan seterusnya, 2) Siswa mewakili ketidaksempurnaan, ceruk terdalam dalam menerima limpahan pengetahuan, penampung dan tertindas. Status ini mahal dan sarat makna terutama yang kuliah sambil bekerja, siang bekerja malam hari dididik dan dilatih. Siang mengumpulkan koin, lembar, atau tumpukan lembaran dengan nilai tukar yang kerap mengganggu tidurmu. Malam mendengarkan materi, model, persamaan bangunan pemikiran keluar dari kotak komik derita. Bioskop salah satu pilihan meredakan semua tegang akibat dua proses ini.
...
Sekali waktu teman diskusi model c.q kebijakan ekonomi mengajak mempelajari isu dalam film para pialang saham ini. Jam tayang film di studio pukul 18:00 WIB. Saya dikarenakan sore Hari Sabtu ada kuliah yang berakhir 17:00 WIB jadi pembeli tiket. 17:50 WIB tanda-tanda uang menguap karena teman tidak datang membuat saya panik. Untung ada teman lain hendak menonton film berbeda di studio yang sama. Kami memutuskan tiket itu sebaiknya diberikan pada seseorang secara geratis daripada menguap karena tidak dapat ditukar.
...
Tyas gelisah membalik lembar komik ditanganya. Kecang menggenggam sampul komik. tanpa sadar bahu mengkerut saat mendengar sosok kakak angkatan yang berdiskusi di depannya.
Andre: "Udah elu kasih ke orang aja daripada tuh tiket gak kepake"
Andik: "Egh ini anak angkatannya di bawah kita kan? kasihin ke dia aja ya"
Andre: "Udah ajakin aja"
Tyas mundur selangkah ketika mendengar keputusan ketiga manusia di depannya. Mereka diskusi di pojok persis bersebrangan dengan pojokan tumpukan komik-komik Gramedia tempatnya berdiri. "mama tolong anakmu mau diculik" Tyas berteriak dalam hati.
Hilman: "jangan, ini anak lagi nunggu pacarnya lu"
Tyas: " ogh selamat, audzubillahi minasyaithan nirajim" soraknya dalam hati. Gembira hati Tyas seiring rombongan itu berlalu.
...
"Lucu itu anak" ujar Andik dalam hati, seraya jalan menuju studio yang tiketnya sudah ia beli. Semua tayangan adegan menghipnotis untuk menganalisa dan mempelajari. Sadar ataupun tidak bagi Andik film ini malah membuat ia semakin penasaran dengan cewe mungil di Gramedia tadi. Semua materi makroekonomi yang sudah disiapkan di benak berganti dengan rangkaian tanya untuk mengenal sosok chubby tadi. Serangkaian skenario mulai ditulis dalam alam sadarnya untuk membuat hubungan dengan pengrusak dagangan gramedia itu.
...
FB sebagai media sosial Andik manfaatkan untuk menjalin hubungan sosial dengan sosok mengalihkan dunianya. Permintaaan pertemanan dikirimkan ke pemilik senyum seindah bunga krisan. Telah tiga bulan permintaan pertemananya tidak juga diterima membuat Andik mengirimkan pesan ke kotak pesan akun FB Tyas. Andik menulis
"sebelumnya maaf mengganggu
jujur sy penasaran
Mengapa pertemanan dari diriku gak di confirm?
dan jujur sy bertanya setulus nya dengan penuh rasa malu ini,
dan dengan didorong oleh keinginan luhur untuk introspeksi diri
jawaban anda akan sangat berarti buat pengelolaan account sy,
dan kalau lah pertanyaan ini gak penting apalagi menganggu;
sy pribadi maklum kalo tidak memperoleh balasan
akhirnya dengan hormat pertanyaan ini kami sampaikan"
setahun berlalu surat itu pun tidak dibalas dan permintaan pertemanan terbengkalai. Aneh Andik malah merasa penasaran pada Tyas.
...
Telah berlalu dua tahun, kembali Andik mengirimkan pesan ke dalam kotak pesan Tyas:
"tolong di accept dong mau temenan."
keajaiban terjadi sekitar dua hari berselang permintaan pertemananya diterima dan pesannya dijawab Tyas:"Udah, maaf br bk fb"
karena Andik kehabisan materi untuk berbincang dengan Tyas, ia mengambil inisatif dengan kembali mengirimkan pesan"makasih ya udah di accept,
gak nyangka setelah lebih dari 2 tahun penantian,
akhirnya saya ...
dan sepertinya di accept
karena sudah jarang buka FB ya
aduh aduh #tepokjidat
tapi yah late is better than never
sukses selalu Mbak Tyas"karena setelah seminggu pesannya tidak ada direspon Tyas kembali Andik mengrimkan pesan:
mungkin mbak Tyas bertanya-tanya
"Ini orang siapa ya?"
...
dan saya yakin pertanyaan tersebut,
berasal dari hati yang terdalam dan terjujur,
karena terakhir saya melakukan percakapan dengan Mbak Tyas itu,
zaman Judo belom nikahan sama Karate.
...
percakapan itu terjadi saat seminar skripsi Judo tentang analisa sikap konsumen bebek bakar pak selamet.
cuplikan percakapannya lebih kurang begini
Udin: neng punten nanya,
terus dia nunjuk ke saya
Mbak Tyas: Mbak Tyas noleh dengan tersenyum
Saya: Kalo plafon pinjeman di Mandiri itu berapa ya?
(jujur waktu itu saya gak tau mau nanya apa)
dan saya lupa jawaban Mbak Tyas waktu itu,
saya hanya mengingat 'kagok' nya keadaan waktu itu.
...
mungkin Mbak Tyas semakin serem temenan sama saya
setelah baca surat ini.
"ogh ini orang alay amat"
saya menebak ini berdasar time series dari pengalaman saya sama cewek,
tapi izinkan saya menyelesaikan cerita saya ini
...
maksud dari surat ini untuk menjawab pertanyaan,
"mengapa saya penasaran sama Mbak Tyas?"
dari sedemikian banyak mahluk di dunia,
dari angkatan saya saja ada tuh 100 orang,
sesemester dari angkatan saya ada 100 orang,
dari angkatan Mbak Tyas ada 100 orang.
Kenapa harus Mbak Tyas.
Mungkin itu pertanyaan penelitiannya.
...
Untuk menjawab pertanyaan tersebut,
Saya akan menceritakan latar belakang penelitian ini terlebih dahulu,
Jauh sebelum saya penasaran sama Mbak Tyas,
...
Saya itu orang cuek,
Satu kos an saya itu di Kuningan 14,
Cowok di kos itu hanya saya sama si Udin,
...
Jujur saya tidak homo,
Sekali lagi saya tekankan itu tadi,
Fenomena kos ini murni terjadi karena faktor biaya yang rendah
...
Ketika berhubungan dengen mahluk bernama cewe saya itu rada cuek,
Sampai terjadi latar belakang penelitian ini.
Saya saat itu ngajar di sebuah SMK di depan Babadak ciawi,
Saya waktu itu lagi ambil Mata Kuliah Makroekonomi,
Bersama temen saya si Dul,
...
Pada suatu hari (saya lupa tepatnya)
saya sama Dul mau nonton wall street money never sleep
jam tayang studio jam 6 sore,
Saya yang kebagian beli tiket bingung,
Dul belon dateng,
Saya panik karena duit saya 90 ribu udah keluar,
Saya ngider-ngider ke gramedia
ketemulah saya sama temen yang lain Andre sama Hilman
(Joni suaminya Kintan kenal sama Hilman,
seangkatan waktu d3 kalo gak salah),
...
Curhat lagh saya sama mereka,
Intinya sayang amat ini 45 rb ilang begitu aja,
Lalu andre bilang
"dah ajak aja orang yang lu kenal di sini"
Waktu itu Mbak Tyas lagi nunggu Brad kalo gak salah
di kelompok bulu-buku komik,
Kami bertiga membahas masalah tiket itu persis di depan Mbak Tyas,
Lalu saya ngeliat Mbak Tyas
"ini kayaknya anak AGH , ajakin aja apa ya"
kata saya
"jangan cuy dia lagi nunggu cowonya" jawab Hilman
...
Ini lah awal saya penasaran sama mahluk bernama cewe,
Waktu itu Mbak Tyas lagi baca komik,
Ketika saya selesai mengucapkan kalimat tadi,
Mbak Tyas mengkeret kaya bilang "mama tolong ada perampok"
Sejak saat itu saya penasaran sama Mbak Tyas
"lucu nih anak"
...
Saya akui emang saya bertampang penjahat temen penjahit,
Tapi ngeliat orang "segitunya" baru waktu itu.
Kemudian terlahir lagh pertanyaan penelitian tersebut di atas.
...
Akhirnya tersampaikan beban berat saya,
Saya cuma ingin mengetahui
"koq saya tertarik ya ngeliat Mbak Tia"
Memang kejahatan terjadi bukan hanya karena kesempatan,
Tapi juga karena niat buruk dari pelakunya.
Dengan tersampaikan niat saya ini,
Paling tidak saya telah menyampaikan niat saya,
Saya tidak berniat jahat,
Just want to know Mbak Tyas
...
Setelah saya menjelaskan sedemikian banyak latar belakang di atas,
Dalam benak saya Mbak Tyas akan bertanya
"terus kalo udah temenan terus kenapa, masalah?"
"situ yang bikin pertanyaan penelitian koq saya yang harus repot ngejawabnya"
lalu saya bingung
"iya ya terus kalo udah di confirm gimana?"
aduh mana belum bikin quesioner lagi.
...
Yah begitulah monolog karya saya hari ini.
Semoga dapat menghibur pembacanya
best regards Andik.
...
Pesan demi pean terkirim, tidak ada respon Membuat Andik bingung telha berlalu 2 bulan pertemanan tapi tidak ada kontak sama sekali. Kemudian Andik mendiskusikan hal ini pada Dim-Dim teman sekantornya.
Dengan sukses Dim-Dim tepok jidat "aduh -aduh no comment gua Bro"
...
Andik kerap pergi ke pusat perbelanjaan yang satu jalan dengan kantor Tyas. Andik berharap dapat melihat kembali senyum atau sosok yang kerap mengembalikan semangat kala kerjaan menggila. Stalking dan mengedit foto Tyas menjadi kumpulan gambar lucu menghasilkan kesegaran kala jenuh melanda Andik. Manis chococino sampai rasa jagung terasa ada kala memandang karyanya terinspirasi senyum yang berbehel milik Tyas. Lagu republik sandiwara cinta menyentuh telinga Andik meredupkan rasa ingin jujur.
Pusat perbelanjaan ini memiliki tiga lantai dengan luas hampir satu hektar per lantainya. Jarak ditempuh sekitar 30 kilometer dari tempat tinggal Andik sekarang. Jika menggunakan angkot maka Andik butuh berganti angkot sebanyak tiga kali dengan masing-masing angkot butuh satu jam perjalanan. Hujan ataupun panas tidak lagi menjadi masalah bahkan tangisan bayi dan Ibu-Ibu pedagang sayur telah menjadi bagian perjuangan Andik untuk tujuannya. Bau selokan sampai bau kentut penumpang Andik nikmati bahkan menegur perokok ia lakukan demi melihat kehangatan yang timbul kala menyaksikan sosok Tyas.
Sore itu kering seperti 3 minggu sebelumnya karena hujan enggan bertandang ke Kota Hujan. Andik ikut Dim-Dim ke Kota Bogor membeli sebuah buku untuk menemani ia selama di Dramag Kabupaten Bogor. Sesampai di Jalan Salabenda hujan turun dengan deras. Basah pakaian dalam dan luar Andik, rasa dingin mulai merambat bersama basahnya celana kerjanya hari ini. Sesampai Pagentongan Andik dan Dim-Dim mermutuskan berteduh dahulu di sebuah Kedai Bakso. Sungguh sore yang dinanti setelah selama 3 minggu hujan tidak bertandang membuat Andik merasa dingin.
Setelah membeli sepotong kaos Andik melanjutkan perjalananya menuju Gramedia Botani Square. Bayang Tyas diharapkannya terlihat hari ini walau buku tetap menjadi tujuan utamanya. Setelah sampai dan menyelesaikan transaksi belanjanya Andik mengendarai angkot untuk kembali ke Dramaga. Angkot hari hujan ini dimasuki dua orang yang luarbiasa. Salah satunya penuh luka bekas kecelakaan motor, dan seorang yang memiliki masalah dengan empati. Sosok bermasalah itu merokok dengan bau menyan membuat Andik pusing.
Sesampai di depan kantor DPRD macet maghrib yang sudah biasa terjadi membuat Andik muntap. Seiring keluar menahan amarah yang luarbiasa Andik berkata "Pak kalau di dalam angkot jangan ngerokok". Kesal itu memberi Andik energi yang cukup untuk mencapai depan Penjara Paledang untuk naik angkot lain. Hembusan nafas berat Andik lepaskan di angkot baru seraya melepas pandangan ke orang-orang dengan siluet senja keluar dari stasiun Bogor.
Gundah gulana Andik sore itu lengkap sudah dengan melintasnya Tyas bersama seorang cowok di atas motor Vario. Andik insaf tumbuh itu sakit, berubah jadi lebih baik itu sakit tapi berada di suatu tempat yang bukan tempatnya dan tidak bisa berbuat atau ke mana-mana lebih menyakitkan. Sore itu ia berdoa untuk kebahagiaan Tyas. Semoga Allah perbaiki segala urusan Tyas, demikian lirih Andik ucapkan dalam hati mengikuti laju motor Vario dengan senyum yang ingin ia miliki. Sesampai di tempat tinggalnya Andik menghapus semua hasil stalking dan peeping atas semua meme mengenai Tyas. Cinta tidak memiliki itu memang omong kosong tapi bukan berarti membenarkannya untuk melakukan stalking.
No comments:
Post a Comment