Tuesday, September 16, 2014

perbedaan

Aku merasakan bosan setelah sendiri mencoba mengerti diriku, kesendirian di akhir pekan menjadi aktivitas yang sulit kusukuri. Aku mengakui kegagalan untuk mengerti apalagi paham arti bahagia yang ingin kuwujudkan. Semakin aku mencari semakin aku meyakini
"ada saat hanya menjalani tangga kehidupan dan sedikit menutup mata dari mengingat tangga kehidupan sedang bersandar dimana. Aku mengharapkan tangga ini bersandar di dinding yang benar.
...
Aku merasa bosan dengan sepi dan kesendirian, membuatku tertarik untuk berjalan ke areal yang dikenal sebagai kota. Aku mengakui kebiasaan CLBK (Cuma Liat Beli Kagak) kerap memberi pelajaran hidup yang berarti. Selasa, Rabu, Kamis, Jum'at dan Sabtu adalah hari biasanya aku mendatangi melihat budaya di areal tersebut. NKRI sejahtera itu benar jika kita berjalan di jalanan kota Bogor sepanjang jembatan merah mobil mewah bisa jadi tolak ukur daya beli masyarakat sebagai indikator tingkat kesejahteraan. Pemerataan kesejahteraan semakin besar gap antara sejahtera dan prihatin bisa dilihat fenomena dari sedemikian banyak barang tersier tersebut masih ada orang yang tidak mandi, menggunakan cup mie gelas untuk mencari hidup dan kehidupan, beratapkan langit, sisa orang yang dimakan dan hidupnya menyusuri jalan. Aku menyaksikan semua itu dan berbuah kalimat:
"Aku masih bisa memilih itu suatu nikmat,
jika aku tidak bersukur dan tidak bekerja mengambil peran,
dan memperbesar lingkar pengaruh.
Aku akan termakan dalam lingkar kepedulian,
hingga terhanyut menjadi salah satu sosok yang aku kasihani ketika melihatnya sekarang"
...
Wisata antropologi dalam mempelajari dialektika akulturasi dan migrasi masyarakat kerap kulakukan untuk mencoba tumbuhkan kalimat "Aku hamba-Nya yang beruntung". Kesendirian sebuah mesin yang sangat membantu membangun karakter yang mampu menolak kebenaran dan merendahkan manusia. Pepatah menyatakan "seperti kodok dalam tempurung".

No comments:

Post a Comment