Wednesday, November 26, 2014

perjalanan

26 11 2014
Seperti sore sebelum-sebelumnya jam 17:00-20:00 BBWI adalah jam mata 3/4. Sore ini spesial karena mendapat satu lagi label "fix jahat, malu temenan sama kamu". Memang mudah mengatakan semua orang memiliki hak untuk memberi penilaian pada dirimu, tapi tidak mudah menjadikan perkataan orang sebagai penilaian Allah. Menelan penilaian orang itu seperti mengunyah hati ayam goreng kemudian kegigit empedunya. Satu kata 'pahit'. Sangat wajar Allah bilang ciri orang beriman itu tidak takut celaan para pencela.
Aku sekarang ada di kabupaten Bogor. Geledek, petir, awan kelabu, hujan aroma air basahi jalan telah kembali ke kota ini. Dingin pun setia menyelimuti ringankan ingatku pada masa yang ingin kulupakan namun terlalu indah. Aku tidak mengetahui dimana aku akan meninggalkan semua dingin, hangat, panas kehidupan untuk kembali pada-Nya. Aku hanya berusaha menolak lupa untuk memilih tulisan, kata yang tertulis dalam buku catatan amal yang pasti Allah terbitkan dan publikasikan pada waktunya.
Lelah sore ini karena tersadar pada satu kalimat 'aku mau ke mana'. Kalimat berikutnya menyusul 'aku mati sebagai apa'. Tambahan lagi ' apa arti hidupku'. Tanya yang kerap datang menyapa dan meringakan ku memasang kata DESPERATE pada langkah, raut muka bahkan bisikan hati. Kelelahan yang kerap berulang dan belum bertemu jawabnya.

22 10 2014
Sore dengan langit yang kemerahan di tepi Sungai Junjangan. Pojok Desa yang terang benderang zaman kejayaan Kayu-Kayu meranti di jual per log secara tutup mata ke Singapura telah berlalu. Rumah dari kayu Tengkawang tempatku duduk mulai runduk karena usia, tanpa poles pernis ataupun pewarna lainnya. Abu-abu namun teguh hingga waktu lapuk tiada bersisanya habis.
Air gambut dengan pH 5 kembali menjadi pelarut keringat yang menempel di kulit hari ini. Sayup suara Adzan Maghrib dari masjid di depan perkuburan desa menyejukan relung hati akan kebesaran Ilahi Rabbi. Bersama tetua kelompok aku meletakan 7 anggota sujud sebagai ketundukan dan ketaklukan akan kebesaran Allah.
Subuh tanpa lampu mataku mengangkat kelopaknya. Bersama kerlip lampu hp ku berwudhu di tepi kakus. Dalam kelam lamat kuresapkan bacaan tetuaku dalam relung-relung kering hatiku akan manisnya makna sepuluh ayat awal surat al-Baqarah. Pagi hangat dengan sarapan yang mengingatkanku pada kota kelahiran karena yang masak orang pedamaran. Mandi pagi seperti biasa kulakukan dengan tatapan tiada lepas pada arus sungai yang berubah. Bilasan terakhir setelah mengedapkan sabun ke seluruh tubuh melintas zat sisa yang tidak diterima dasar sungai. Hatiku berteriak "SUBUHKU OH TIDAK".

17 11 2014
Kelam malam menyamarkan kondisi kanan kiri perjalanan dari Sintang ke Desa Seina Kecamatan Silat Hilir Kabupaten Kapuas Hulu Provinsi Kalimantan Barat. Benakku telah membangun rumah penduduk sebagaimana kondisi kegiatan di Indragiri Hilir Provinsi Riau dahulu. Berbaur dengan kehidupan penduduk sekitar kebun yang belum jadi. Kumpulan dokumentasi perkampungan masyarakat dayak yang memelihara babi di bagian bawah rumahnya sangat merisaukan hatiku. "ngapain lu nangis om" ketika aku diskusi dengan teman kantor menggambarkan risauku. Hartaku yang paling berharga adalah perdaganganku dengan Allah.
Jalan perintis mulai mengajak elf perusahaan bergoyang dan melompat-lompat. Kututup kaca jendela yang meniupkan angin malam yang menusuk dinginnya. Obrolan tim perusahaan tidak lagi menarik perhatianku untuk menyimak. Mataku telah beristirahat tenang berteman telinga yang masih berupaya menangkap nyanyian serangga tepian tengkawang. Hatiku besar harap terjadi keajaiban untuk menyelamatkan cintaku.
Terjaga teman kelompoku karena obrolan pengendara bahwasanya kita telah sampai di lokasi. Rumah bercat bisu bernama mess telah membuatku gembira malam itu. "cintaku selamat" hatiku berteriak seraya meletakan keperluanku dan mengambil wudhu dengan air ber pH 7 dalam ruang berkeramik biru. Aku bersujud dan mengagungkan nama-nama-Nya wujud sukurku akan keajaiba malam ini. Seiring niat untuk mengerjakan hal-hal yang menyebabkan cinta-Nya padaku, ku baringkan tubuh di atas tempat tidur ber per baja, dengan nama-Nya aku hidup dan mati menjadi kata terakhirku malam itu dalam senang. Paginya  melintas lah sekeluarga babi di pekarangan mess, mengangkat senyum di bibirku karena aku tidak perlu tidur di atas kandang mereka. BABI woy BABI aku memanggil-manggil keluarga tersebut di jendela kamar karena sangat jarang aku melihat mahluk satu ini. 

08 12 2014
pagi ini aku hendak ke sintang lagi namun menggunakan bus DAMRI. Lelah terasa membayangkannya saja. Semoga kuat menjalaninya hanya itu ucapku pada hati. hasbunallahwani'mal wakil.